cool hit counter

PDM Kota Banjarmasin - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Banjarmasin
.: Home > Artikel

Homepage

IBADAH HAJI & QURBAN SEBAGAI REALISASI SEMPURNANYA IMAN

.: Home > Artikel > PDM
30 Agustus 2017 20:31 WIB
Dibaca: 241
Penulis : MUHAMMADU YUSUF, S.PDi, MA.

Ibadah Haji & Qurban sebagai Realisasi Sempurnanya Iman[1]

Oleh: Muhammad Yusuf, S. Pd.I., MA.[2]

اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، الْعَزِيْزِ الْغَفَّارِ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارِ، تَذْكِرَةً لأُوْلِي الْقُلُوْبِ وَالأَبْصَارِ ، وَتَبْصِرَةً لِذَوِىْ الأَلْبَابِ وَالاِعْتِبَارِ ‏‏‏.‏ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْبَرُّ الْكَرِيْمُ، الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، الْهَادِىْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ، وَالدَّاعِيْ إِلَى دِيْنٍ قَوِيْمٍ‏.‏ صَلَوَاْتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّيْنَ، وَآلِ كُلٍّ، وَسَائِرِ الصَّالِحِيْنَ‏.‏ أما بعد‏: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

الحمدوللهاكبراللهاكبرالله

Ma’asyiral musliminrahimakumullah

Pada hari ini (tgl 10 DzulHijjah) kita umat Islam melangsungkan Hari Raya dan dihari yang mulia serta penuh berkah ini, kita bersama ratusan juta bahkan milyaran  umat Islam lainnya diseluruh dunia melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Semuanya duduk sama rendah berdiri sama tinggi, meletakkan kepala diatas tanah, bersujud, mengakui betapa kecil dan lemahnya manusia dihadapan Allah yang Maha Besar.Syari’at Allahpun ditunaikan sebagai bukti keimanan.

 

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

[3]عَشْروَلَيَالٍوَالْفَجْرِ

Demi Waktu fajar dan sepuluh malam”.


Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas bahwa sepuluh hari ini adalah sepuluh hari di bulan Dzulhijjah.

 

Rasulullah Saw. juga menegaskan keutamaan ber’amal di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

 

روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنيِ أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Diriwayatkan oleh al-Bukhari -رحمه الله- dari Ibnu 'Abbas -رضي الله عنهما- bahwa Nabi -صلى الله عليه وسلم- bersabda: "Tidak ada hari di mana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun".

Di dalam 10 Dzulhijjah pertama juga terdapat puasa Sunnah Arafah yang dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjah yang memiliki keutamaan dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan satu tahun sebelum dan satu tahun sesudah. Sebagaimana yang disabdakan Rasul Saw dari Abi Qatadah Al Anshary:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اْلأنْصَارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ.

Dari Abi Qotadah ra, Rosulullah saw bersabda: "Saya mengharap kepada Allah agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya". (HR. Muslim no. 196, Tirmizdi no.749 dan Ibnu Majah no 1756)

Imam Nawawi mengatakan: Puasa hari Arofah dapat menghapuskan dosa dua tahun, yaitu dosa-dosa kecil

 

الحمدوللهاكبراللهاكبرالله

Ma’asyiral musliminrahimakumullah

KeutamaanHaji  dan Qurban

Tentang keutamaan ibadah haji, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya.Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

Begitu juga ibadah qurban memiliki banyak keutamaan, meskipun banyak hadist yang dikategorikan dhaif dalam hal ini, akan tetapi keberkahan dan kebaikan pahala qurban tentu jauh lebih banyak dibandingkan dengan sedekah biasa meski dilakukan di waktu dan hari yang sama. Bahkan karena pentingnya qurban, berhutang menjadi suatu kebolehan dengan syarat ada kemungkinan untuk bisa membayarnya.

Sufyan At Tsauri rahimahullah mengatakan: Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta qurban. Beliau ditanya: “Kamu berhutang untuk beli unta qurban?” beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman: لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ(kamu memperoleh kebaikan yang banyak pada unta-unta qurban tersebut) (QS: Al Hajj:36).”

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْر[4]

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya”

 

الحمدوللهاكبراللهاكبرالله

Ma’asyiral musliminrahimakumullah

Adakah Syari’at Allah Memberatkan?

Ketika Allah Swt memerintahkan akan suatu peribadatan sebagai bentuk penghambaan seorang insan, ada baiknya kita bertanya ke dalam diri kita masing-masing

-          “Adakah Allah menginginkan kesulitan bagi hamba-hambaNya? Yang menyebabkan setiap hambaNya merasa tidak mampu melaksanakan ibadah yang diperintahkan?”

-          “Adakah Allah membuat syari’at-syari’at hanya untuk menjadikan setiap hamba merasa berat untuk merealisasikannya?”

-          “Ataukah Allah suka melihat hamba-hambaNya seolah-olah seperti rakyat jajahan yang selalu siap disuruh kerja “Rodi” olehpenjajah ?

Ketahuilah wahai ummat beriman, bahwa Allah Swt tidak menginginkan yang demikian tapi sebaliknya Allah menginginkan kemudahan-kemudahan dan sekali-kali Allah tidak memberikan beban yang tidak sanggup dipikul umat manusia.Demikian juga syari’at haji dan qurban, tidak ada suatu beban berat yang Allah berikan.

Di dalam surah Al Baqarah ayat 286 Allah berfirman:

وُسْعَهَاإِلَّانَفْسًااللَّهُيُكَلِّفُلَا

Ayat ini terlihat sebuah optimismedalam setiap syari’at Allah Swt, yaitu bahwa setiap syari’at Allah dan RasulNya akan dapat dilakukan oleh setiap orang beriman.

Cerita kakek Karto (67) tahun dari Jombang harusnya menjadi pelajaran buat kita, setelah menabung selama 20 tahun, meski seorang tukang becak,beliaubisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci.Yang tidak kalah mengagetkan, dengan izin Allah tahun ini, seorang penambal ban yaitu pak Ismail Abdullah warga Banjarmasin yang biasa mangkal di Jl. Djok Mentaya, mendapatkan panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji setelah 10 tahun mengumpulkan rupiah demi rupiah. Perlu lima tahun menabung untuk mencukupi setoran awal sejak tahun 2007 sampai 2012. Bersama sang Ibu, beliaupun menyetorkan setoral awal ONH agar berangkatnya bisa lebih cepat dengan alasan mendapingi orang tua. Setelah itu, 5 tahun kemudian tepatnya tahun 2017 ini, beliupun mendapatkan panggilan Allah untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima.

 

Begitu juga cerita nenek Sahati Wati (67) tahunwarga Kota Sukabumi, Jawa Barat, selama 7 tahun, menabung untuk bisa berkurban, dari hasilnya memulung botol bekas, Sahati menyisihkan sebagian di antaranya untuk mewujudkan keinginannya berkurban.Contoh lain, Mak Yati dan Maman, juga sepasang pemulung yang berhasil mengumpulkan uang selama tiga tahun untuk bisa berqurban. Masih banyak lagi cerita-cerita inspiratif lainnya yang seharusnya menggugah kita untuk bisa berqurban.

Dengan demikian, kita semakin yakin bahwa perintahkan-perintah Allah dan Sunnah-sunnah Rasul semuanya bukan hal yang sulit untuk dijalankan.Intinya adalah bukan “sanggup atau tidak sanggup tapi mau atau tidak mau”. Kalau ada kemauan insyaAllah aka nada seribu jalan, tapi kalua tidak ada kemauan akan ada sejuta alasan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح ، فلا يحضر مصلانا»

“Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : Siapa yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir dilapangan kami (untuk shalat Ied).” [HR Ahmad, Daru qutni, Baihaqi dan al Hakim]

Apa yang dilakukan oleh Kakek Karto dan Nenek Sahati atau banyak lagi cerita lainnya tentulah bukan hanya sekedar ibadah biasa, tapi menjadi ibadah yang sangat luar biasa, karena di tengah himpitan ekonomi dan banyaknya keperluan hidup mereka masih bisa menyisihkan sebagian rezkinya untuk memenuhi seruan Allah Swt. Sebagai wujud ketaqwaan kepada Allah Swt, Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS:Al Hajj:37)

 

الحمدوللهاكبراللهاكبرالله

Ma’asyiral musliminrahimakumullah

Kenapa masih Enggan Berhaji dan berkurban?

Ketika jelas tergambar dihadapan kita akan keutamaan-keutamaan yang diraih dengan melaksanakan ibadah haji dan kurban, mengapa masih banyak kaum muslimin yang meragukan janji-janji Allah berupa balasan surga dan kebaikan-kebaikan yang banyak? Ketika ada kemampuan untuk melaksanakannya dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya, mengapa banyak dari kaum muslimin masih diliputi kebimbangan untuk merealisasikannya?Padahal mereka orang-orang yang termasuk beriman kepada Allah dan RasulNya.

Dalam masalah ini, paling tidak ada 3 alasan mendasar:

1.      Belum memahami seutuhnya akan tujuan hidup

Sekiranya tujuan hidup ini difahami secara utuh maka setiap individu muslim akan bersegera menunaikan perintah Allah, karena tujuan penciptaan kita hanyalah untuk menghambakan diri, taat dan patuh kepada Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam surah Azzariyat ayat 56:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Nabiyullah Ibrahim AS, memahami betul akan arah dan tujuan hidup beliau, sehingga beliau berkata:

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS.ash-Shaffat:99)

2.      Tidak memiliki ilmu yang menyeluruh akan dua syari’at ini.

Imam Bukhari dalam Kitabnya Shahih Bukhari membahas ilmu dalam      بابٌ : العلم قبل القول والعمل

Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan.  Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu.Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat.Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari)

3.      Iman yang belum mencapai kesempurnaan

Sesungguhnya yang diinginkan dalam iman adalah mencakup 3 hal dalam satu kesatuan utuh; (1) Iqroorun Bil Lisaan artinya: Ikrar dengan lisan, (2)Tashdiiqun Bil Qolbi artinya: Menyatakan benar di dalam hati terhadap apa yang diikrarkan dengan lisan dan (3) Amalun Bil Arkaan artinya: Mengamalkan dengan seluruh anggota badan.

Kita sudah mengimani syariat haji dan qurban bahkan sampai pada pemahaman dan keyakinan dengan membenarkannya dengan hati, nah sampaikah kita kepada pengamalannya?Semoga Allah Swt merahmati dan menunjuki kita semua, amin.

الحمدوللهاكبراللهاكبرالله

Ma’asyiral musliminrahimakumullah

Munajat

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami.Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا  رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

 

Nama                :           Muhammad YusufRusli

Tempat / Tanggal lahir:  Alabio, 22 Desember 1978

Jenis Kelamin    :           Laki-laki

Alamat                        : Panti Asuhan Sentosa Banjarmasin Jl. Belitung Darat

Handphone                 : 081-39111 2121

E-mail               :           yusuf_221278@yahoo.com

Ayah                 :           H. Muhammad Rusli L.

Ibu                    :           Hj. Rusnida

Istri                             : Hj. Jumi Herlita, M. Sc.

Anak                           : Nayla Hasanata

                                    Muhammad Ramadhan

                                    Ahmad Mujahid Fathan

                                    Muhammad Muwahhid Khairan

Pendidikan                          :

 

JENJANG

PENDIDIKAN

NAMA LEMBAGA

TAHUN LULUS

SD

SMP/MTs

SMA/MA

S1

 

S2

SD Muhammadiyah Alabio

MTs  Ponpes Darul Hijrah

MA Ponpes Darul Hijrah

IAIN Antasari Banjarmasin Fak. Tarbiyah Jur. Pend. Bahasa Inggris

UGM Yogyakarta Fak. Ilmu Budaya

Prodi American Studies

1991

1994

1997

 

2003

 

2009

 

Pekerjaan:Pengasuh Panti Asuhan Sentosa Banjarmasin

Organisasi:Ketua PCM Banjarmasin1, Bendahara PDPM Kota Banjarmasin, Anggota Majelis Tarjih PDM Kota Banjarmasin

 



[1]Khutbah Idul Adha 1438 H, disampaikan di halaman …………………………………(mohon diisikan panitia)

[2]Ketua PCM Banjarmasin 1

[3]Surah Al Fajr ayat 1-2

[4]QS. Al-Hajj: 36


Tags: MPI , PDMKOTABJM , PCM10
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website